RRI Masuk Sekolah, Anak-Anak Syuradikara Diimbau Punya Etika Pancasilais dalam Bermedia Sosial
- Eto Kwuta
- 9 hours ago
- 2 min read

Ende, Syuradikara.sch.id - SMA Swasta Katolik Syuradikara berkolaborasi dengan RRI Ende mengadakan Talk Show tentang "Menjadi Generasi Pancasila di Tengah Era Digital" bertempat di Naungan Hijau Satu, Jumat, 17 April 2026, pukul 10.00 hingga 12.00 Wita.
Sambutan Kepala SMA Swasta Katolik Syuradikara, Bruder Kristianus Riberu, SVD, menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam setiap pilihan tindakan.
"Mari merefleksikan tingkah laku kita dalam dunia digital, teristimewa terkait nilai-nilai luhur Pancasila itu," ungkapnya.
Ditegaskan bahwa, nilai-nilai luhur Pancasila itu kadang diabaikan sehingga menyebabkan banyak persoalan dalam penggunaan media sosial dewasa ini.
Kepala RRI Ende, Robinhod Simbolon mengatakan, RRI masuk sekolah karena berkomitmen menyuarakan keresahan bersama dalam semangat persatuan, cinta tanah air, dan nilai-nilai luhur Pancasila itu sendiri.
"Tujuan supaya apa yang disosialisasikan ini bisa mengakar untuk masyarakat dan khususnya, generasi muda," ungkapnya.
Untuk itu, dikatakannya, RRI membangun kolaborasi ini supaya visi-misi RRI bisa tersampaikan menuju Indonesia Emas nanti.

Hermanus M. Sigasare, Sekretaris merangkap Plt. Kadis Kominfo Kabupaten Ende, menambahkan bahwa era digital yang ditandai kecepatan teknologi mesti disikapi dengan hati dan budi yang bijaksana.
Ia menguraikan, saat ini banyak komponen digitalisasi sudah disimpan dalam apa yang disebut komputasi awan atau cloud computing (data di simpan di awan).
"Jadi, penting untuk mempunyai nilai Pancasilais, salah satunya, yakni jangan menyebarkan hoax," ajaknya.
Di sisi lain, Dominikus Dao, konten kreator dengan nama pena Koko Dony, mengajak anak-anak SMA Swasta Katolik Syuradikara bisa menjadi penyalur nilai-nilai Pancasila yang baik dari rumah, sekolah, masyarakat, dan sekitarnya.
"Saat ini, media sosial yang sering dipakai adalah TikTok, Instagram, dan juga Facebook, jadi banyak kita ketahui di FB pro, orang membuat konten yang tidak mendidik tapi orang suka," jelasnya.
"Mari kita beretika Pancasilais dalam menggunakan media sosial," pungkasnya.* (EK)


Comments