Bruder Simply Hanafi Harapkan Panen Karya Jadi Ruang Pembentukan Karakter Pahlawan Utama yang Kreatif dan Inovatif
- Eto Kwuta
- Jun 14
- 2 min read

Ende, Syuradikara.sch.id – SMAK Syuradikara menggelar Panen Karya yang berlangsung di Naungan Hijau Satu, Sabtu, 14 Juni 2025.
Dalam sambutannya mewakili Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende, Bruder Simply Hanafi, SVD, mengapresiasi semua warga sekolah yang bekerja sama untuk menyukseskan kegiatan panen karya kali ini.
“Saya harapkan, panen karya ini membentuk anak-anak memiliki karakter sebagai orang beriman sesuai dengan imannya. Karakter pahlawan utama yang kreatif dan inovatif yang menghayati dan menunjukkan spiritualitas Pancasila,” kata Bruder Simply dalam sambutannya di depan orang tua/wali murid, guru-guru, dan siswa-siswi kelas X dan XI SMAK Syuradikara.
Anak-anak, kata dia, akan mengalami pengetahuan melalui panen karya dan diharapkan mereka tidak hanya tahu tentang tarian atau menari, tapi harus menghayati makna dan nilai dari tarian atau apa yang ditampilkan itu.
“Kita tidak hanya sekadar panen, tapi kita tahu betul apa yang mau dipanen. Mengapa mereka berusaha supaya ada panen, siapa yang terlibat, dan mengapa mereka mau terlibat. Lalu bagaimana mereka mau berusaha,” ungkap mantan Kepala SMAK Syuradikara ini.
Menurut Bruder Simply, P5 yang didengungkan di sekolah-sekolah tidak hanya sekadar proyek tapi punya nilai pedagogis, spiritual, membentuk afeksi, emosi, untuk jadi pribadi berkarakter.

“Maka dari itu, dengan semangat memanen karya, kita bergairah untuk mengembangkan ranah psikomotorik, dan mempertajam pula rana afeksi,” katanya.
Sementara Bruder Kristianus Riberu, SVD, Kepala SMAK Syuradikara menambahkan bahwa usaha memanen tidak lahir dari kerja kosong.
Dijelaskan, Panen Karya yang dibuat bertepatan dengan penerimaan rapor siswa-siswi SMAK Syuradikara dengan tujuan supaya para orang tua mengetahui bahwa proses belajar tidak hanya soal nilai di atas kertas tapi soal karakter budaya.
"Perayaan Panen Karya adalah latihan untuk bertumbuh dan berakar dalam budaya lewat Profil Penguatan Pelajar Pancasila,” katanya.
“Kemudian, hasil memanen tidak terlepas dari proses panjang. Ada penyiapan lahan, bibit, tanam, rawat, sampai pada panen,” katanya.
Ia mengharapkan anak-anak tetap jatuh cinta dan terus menghidupkan budaya serta mampu menunjukkan kualitas diri di sekolah, rumah, dan masyarakat.
“Kita mengapresiasi pengorbanan anak-anak dan di balik itu, ada pendamping, panitia, bapak ibu guru yang kreatif. Terima kasih banyak untuk kerja-kerja positif ini. Mari kita jaga kerja sama ini,” pungkas Bruder Kris.*



























































































Comments