Kisah Nita Bata, Alumna Syuradikara yang Ikut Program CCIP Satu Tahun di Amerika
- Eto Kwuta
- Dec 7, 2023
- 3 min read

Ende, Syuradikara.sch.id - Maria Fautsia Yunita Bata, biasa dipanggil Nita, berhasil menjalankan satu tahun CCIP (Community College Initiative Program) di Amerika Serikat.
“Saya mengambil program studi pariwisata di Fox Valley Technical College, Appleton, Wisconsin,” katanya, Kamis (07/12/2023).
Selama mengikuti program CCI, kata Nita, dirinya bertemu dengan 15 teman internasional lainnya dari Brazil,Colombia, Ghana, India, Bangladesh, dan Afrika Selatan.
Dalam program CCI ini ada lima pilar, yakni Academic, Cultural Exchange, Volunteer, Magang/Internship, Leadership and Action Planning.
Nita menjelaskan pertama, dalam pilar Academic, dirinya belajar di kampus demi meningkatkan pengetahuan serta mengalami sistem belajar atau pendidikan di Amerika Serikat.
Kedua, Cultral Exchange atau pertukaran budaya. Nita berbagi tentang budaya NTT dan Indonesia dengan presentasi di beberapa SD dan SMA serta di lingkungan kampus.
“Saya juga membawa beberapa souvenirs khas Ende Lio untuk dipajang dan diberikan ke beberapa dosen di sana,” ceritanya bangga.
Ia menambahkan, mentornya mengajak dia menikmati beberapa kegiatan atau budaya orang Amerika seperti menghias labu saat haloween, paskah bersama, thanksgiving, dan memasang ornamen Natal di rumah dan gereja.
Ketiga, Volunteer atau Pengabdian Masyarakat. Di sana, lanjut Nita, dirinya juga melakukan banyak kegiatan sosial sembari membantu packing makanan dan sortir makanan untuk Lembaga Feeding Amerika yang membantu orang miskin.
Keempat, Magang atau Internship. Menurut Nita, Program ini juga mengharuskan mereka untuk menjalani magang di perusahaan atau lembaga tertentu sesuai dengan program studi yang diambil.
“Saya magang di Heartstone Museum dengan tugas sebagai event planner. Saya mengatur segala event yang ada di museum mulai dari persiapan, kegiatan hingga evaluasi seteleh event selesai.
Terakhir, Leadership and Action Planning. Lewat pilar ini, Nita mengatakan, ia diminta untuk membuat satu project CIP (community impact project).
“Dalam proyek ini kami lakukan kegiatan yang berdampak pada lingkungan sekitar kami selama di sana. Sebagai mahasiswa Indonesia, di kampus Fox Valley Technical College, saya membuat project “Enchanting Indonesia” salah satu event promosi Pariwisata dan Budaya Indonesia,” katanya.
Nita menambahkan, ia mempromosikan destinasi wisata Indonesia khususnya Flores sambil belajar dan mengajar Bahasa Indonesia, membuat pertunjukan Gamelan dan Angklung serta belajar memainkan Angklung dan Gamelan secara langsung.
“Ada juga penampilan tarian dari Papua dan diakhiri dengan games tentang Indonesia. para peserta bisa langsung melihat stan atau booth Indonesia yang sudah saya pajang barang-barang khas Indonesia,” ungkapnya.
Sejak pulang ke Indonesia, Nita bilang dirinya mengajar Bahasa Inggris secara gratis untuk dua desa di Kabupaten Ende. Nama programnya adalah English Project. Program ini, lanjut dia, sudah berjalan tiga bulan dengan jumlah siswa SD sekitar 50 orang yang berasal dari dua desa tersebut.
“Hal ini didasari oleh keresahan karena di dua desa tersebut tidak memiliki guru Bahasa Inggris. Saya merasa perlu adanya perkenalan Bahasa Inggris sejak dini dan anak anak di dua desa ini sangat antusias dan semangat dalam belajar bahasa inggris,” ungkapnya.
Nita sungguh berharap anak-anak bisa memanfaatkan peluang dan kesempatan dari AE project untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris serta tetap semangat untuk belajar dari kondisi dan situasi kampung yang penuh dengan keterbatasan.
Nita juga meminta supaya adik adik SMA Swasta Katolik Syuradikara mengakses program tersebut dan mengikuti jejaknya.
“Belajar di SMAK Syuradikara adalah sebuah pilihan yang tepat, komunitas syuradikara khususnya IAS menjadi wadah untuk segala informasi, peluang, koneksi, dan networking yang bisa adik adik ambil manfaatnya,” katanya.
Diketahui, beberapa hari lalu, Nita mengajak Pak Wout untuk berkunjung ke Syuradikara dan memperkenalkan program tersebut kepada adik-adik Syuradikara.
“Karena saya merasa adik-adik pantas untuk mendapatkan semua informasi tentang bagaimana cara mendapatkan beasiswa ke Amerika. Tetap belajar, tingkatkan kemampuan bahasa, berani mencoba hal baru, dan yang paling penting jangan lupa untuk tetap berdampak bagi lingkungan,” pungkasnya.

























Comments